[Laporan Langsung SM3T-Avika Dias] Menumbuhkan Asa Anak-anak Borneo

Gambar hanya ilustrasi. Gambar masih menunggu kiriman dari sdr. Avika

Nama saya Avika Dias Saputra. Di antara teman-teman SM-3T, mungkin saya salah satu yang beruntung karena dapat menuliskan pengalaman di sini. Saya alumni Pendidikan Matematika UNNES angkatan 2010. Saya peserta SM-3T Angkatan V yang bertugas di SMP Negeri 2 Tering, Kampung Tukul, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Dari Balikpapan ke Kutai Barat dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama 14 jam atau perjalanan kapal lewat sungai selama 2 hari dari kota Samarinda. Lokasi tempat saya bertugas tepat berada di tepi sungai Mahakam dan berada di tengah pemukiman 980 warga Dayak (etnis Bahau) yang memanjang sejauh 5 Km dari hulu sampai hilir di tepi sungai dan hubungkan oleh satu jalan semen selebar 1 meter.

Awalnya saya berpikir bahwa saya akan jadi guru matematika saja di sekolah, namun saya keliru. Kebetulan di sekolah tidak ada guru Bahasa Indonesia, sehingga saya pun merangkap sebagai guru Bahasa Indonesia juga. Di sini, sosok SM-3T dipandang super sehingga saya ditunjuk langsung sebagai Waka Kesiswaan oleh Kepala Sekolah. Padahal sebenarnya saya sendiri merasa masih ‘kurang’ dan masih membutuhkan bimbingan dalam melakukan sesuatu yang baru. Terlebih lagi, untuk menghadapi anak-anak di sini dibutuhkan kesabaran dan strategi tersendiri. Selain itu, saya juga dipercaya untuk menjadi koordinator SM-3T Kabupaten oleh teman-teman. Tugas ini berat karena harus membawahi 37 orang dan penghubung dengan pihak LPTK, Dinas Pendidikan, serta 9 kabupaten lainnya. Jadi, di sini saya adalah guru matematika merangkap sebagai Waka Kesiswaan, guru Bahasa Indonesia, dan Koordinator SM-3T Kabupaten. Sebuah kumpulan amanah yang menuntut saya untuk bisa mengatur diri di tengah kondisi fasilitas yang serba terbatas.

Seperti guru lain, sebelum mengajar di kelas saya memantapkan materi dan media. Saya juga tidak lupa menyiapkan nasihat-nasihat, permainan, cerita yang saya kemas untuk mengkondisikan suasana sehingga pembelajaran berjalan kembali sesuai rencana. Hal ini perlu dilakukan karena anak-anak terkadang bertingkah yang tidak wajar. Anak-anak dominan suka pada kegiatan yang bersifat fisik, sehingga kalau terlalu lama diam mereka akan berontak. Ketika berbicara pun saya harus berhati-hati memilih kata, karena jika ada salah kata atau menyinggung anak maka bisa jadi orang tuanya tidak terima dan marah datang ke sekolah sambil membawa Mandau (senjata parang khas kalimantan).

Saya dan guru-guru lainnya sering mengeluhkan kemampuan dasar siswa seperti membaca dan menulis yang tergolong rendah. Hal tersebut sering menghambat proses belajar karena guru terpaksa harus mengulangi materi yang seharusnya sudah mereka kuasai sewaktu SD. Saya sendiri mengadakan les khusus bagi semua siswa dengan maksud mengulang lagi materi SD seperti konsep bangun datar dan operasi dasar bilangan Bulat saat sore hari di setiap hari. Total jumlah siswa SMP adalah 46 siswa terdiri atas 15 siswa kelas VII, 14 siswa kelas VIII dan 17 siswa kelas IX. Sementara guru yang tersedia ada 10 orang, terdiri atas 1 kepala Sekolah, 3 orang status guru PNS, 4 orang status guru honorer/PTT dan 2 orang status guru SM-3T.

Hal yang yang menjadi kendala di sini adalah bencana banjir dan kabut asap setiap tahun. Saat musim hujan, jalan ke sekolah itu digenangi banjir setinggi 1,5 meter. Anak-anak sering berangkat naik sampan berdayung. Bahkan sekolah sendiri sedang mengusahakan membuat sampan perahu khusus untuk transportasi Guru/siswa saat banjir melanda. Ketika banjir parah sekolah diliburkan sementara anak-anak lebih memilih membantu orang tua menyelamatkan hasil panen ladang/ternak. Saat kemarau, kabut asap akibat pembakaran pembukaan ladang juga sangat mengganggu. Jarak pandang kurang dari 1 meter, mengganggu pernafasan, dan iritasi mata. Sekolah juga terpaksa diliburkan ketika kondisi kondusif. Bahkan semester 1 kemarin, akumulasi libur akibat asap sampai satu bulan.

Sebagai guru ‘pendatang’ saya tinggal di mess SD dekat SMP, jarak mess ke sekolah kurang lebih seratus meter. Mess tersebut dihuni 2 orang, yakni saya dan penjaga SD. Selain sebagai tempat tinggal, mess tersebut juga berfungsi sebagai ruang belajar di sore hari. Anak-anak SD/SMP sering datang untuk belajar atau sekadar main saja. Bagi mereka, kedatangan guru baru merupakan angin segar karena seakan mereka dapat teman baru. Tidak jarang mereka sengaja datang untuk mengajak main voli, sepak bola, atau meminta saya menyanyikan lagu kesukaan mereka.

Terkait penerangan lampu, mess kami menggunakan jenset maksimal selama 3 jam/malam sebab layanan PLN belum masuk sampai saat ini. Seringkali saya harus merogoh kantong lebih dalam karena kini harga bensin Rp. 12.000/L untuk menyalakan jenset selama semalam. Sementara untuk transportasi ke pusat Kabupaten, saya sering pakai sepeda motor selama 2 jam, melewati jalan tanah perkebunan sawit selama satu jam serta tiga kali menyebrang sungai dengan ongkos sebrang Rp. 40.000,-.

Bagi saya, menjadi guru di daerah 3T adalah sebuah tantangan sekaligus kebahagiaan. Selain bisa memenuhi kekurangan jumlah guru, saya bisa berbagi ilmu dan praktik dengan anak-anak yang kurang beruntung. Mereka adalah saudara saya yang merupakan anak-anak potensial namun sangat membutuhkan sentuhan proses sehingga bisa setara dengan teman-teman mereka di Jawa. Semoga Allah SWT melancarkan semua aktivitas pengabdian saya sampai akhir masa tugas Agustus 2016 dalam rangka mencerdaskan anak bangsa, amiin.

Salam Maju Bersama Memajukan Indonesia.

This entry was posted in Alumni, Mahasiswa, News. Bookmark the permalink.

2 Responses to [Laporan Langsung SM3T-Avika Dias] Menumbuhkan Asa Anak-anak Borneo

  1. marlina says:

    semangat kawan. medan perjuangan begitu indah untuk ditaklukan.. kemenangan menanti

  2. bu rakhmi says:

    Terus berjuang Diaz, We don’t wanna let our country down!

Form Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *